Aku kan kembali,
suatu ketika nanti
Di pantaimu....
menjadi tuli karena deburmu
Tergeletak di lembut pasirmu
Memeluk biru langitmu
Aku akan kembali
Di pagimu, pada damaimu
Di soremu, pada pesonamu
Aku akan kembali,
suatu ketika nanti
Mungkin.
Aku berharap hujan turun lebih lama...bukan hanya gerimis yang seperti
biasa sesekali mampir menyiram kota tempat kita tinggal.
Aku berharap hujan turun lebih deras, hingga sejam, dua jam lagi. Agar
aku tak perlu mencari alasan untuk bisa duduk di sini lebih lama. Agar kau punya alasan untuk tak meninggalkan meja kerjamu. Agar aku
bisa memandang hujan dan melirik sorot matamu. Agar aku bisa menghirup
aroma basah tanah yg menyusup lewat celah jendela-jendela ruangan sambil mencuri-curi
pandangmu.
Menikmati lekuk wajahmu. Memperhatikan gerak lakumu. Menelan
senyummu.
Namun hujan kali ini pun gerimis saja. Belum genap setengah jam telah mereda, hanya menyisakan butir-butir air yang menggantung di dahan-dahan pohon. Menciptakan genangan-genangan basah di trotoar. Dan kekecewaan di harapku.
"Hujannya udah reda,yuk pulang ...uda malem... Bakal ditungguin nih"
Ya, hujan telah berhenti, dan di rumahmu kau pun ditunggui...istri dan putri kecilmu.
kalau kau menulis sajak,
mondar mandirkah engkau di dalam kamar
mereka reka sekian lagak
atau duduk diam tentang jendela
sambil menghabiskan rokok saatu pak?
-syu'bah asa-
Ketika seorang kawan bertanya tentang penemuan ide untuk menulis, baru aku benar-benar memikirkannya. Kupikir, banyak ide bermunculan ketika aku duduk di depan komputer jinjingku ditemani secangkir teh lemon hangat. Namun tidak.
Bagiku, inspirasi muncul dari ha-hal kecil yang biasa kita lakukan. Kehidupan sehari-hari, rutinitas yang biasa, kesibukan yang biasa. Inspirasi menyapaku dalam perjalanan pagi menuju kantor, menjawilku di sela-sela obrolan ngalor ngidul bersama orang-orang yang kukenal.
Inspirasi datang dari hal - hal kecil yang biasa yang mungkin sering terlewatkan. Ketika berpapasan dengan abang tukang bakso keliling di depan gang rumah. Ketika berjalan beriringan sepasang ibu-anak yang menyeberang jalan. Ketika berjajar mengantre di restoran cepat saji.
Dari tiap-tiap rutinitas yang biasa itu, otak kananku bekerja. Mengubah macetnya jalanan menjadi latar, menyulap tawa kawan-kawanku menjadi dongeng, mendaulat lelaki paruh baya penjual nasi padang yang entah siapa namanya menjadi tokoh utama.
Peristiwa-peristiwa kecil yang tertabur sedikit imajinasi itulah yang kemudian mengambil bentuk potongan-potongan kisah, berserak dalam lemari ingatan di kepalaku. Tercecer, tak bersangkut paut satu sama lain, mulanya. Hingga pada akhirnya melalui jemari yang lincah berlompatan menuliskan baris-baris kata, keping-keping mozaik itu akan terengkuh, tersusun, mewujud dalam sekotak utuh. Dan sebuah cerita pun terlahir.
-it may be just a scatter of unrelated words, but i still believe, one day it is not-